Tiba di rumah sakit ..
Papa wito langsung masuk ke dalam
ruangan ICU .
“
1 jam kemudian papa wito selesai
di tanganin dokter keluarga dan akhirnya dokter tersebut pun keluar dari
ruangan yang di mana ada papa wito juga.
Sreeet (suara pintu)
“dokter gimana keadaan papa” kata
mbak nurul
“gimana keadaan suami saya” kata
ibu yati
“alhamdulillah pak wito sudah
melewati masa kritis. Sekarang sedang tertidur karena obat yang kami berikan.
Nanti setelah pak wito sadar tolong jangan berikan obrolan yang bikin nya syok
lagi” kata dokter andre
Dokter andre adalah dokter
keluarga yang memang biasa menangani setiap penyakit keluarga nya papa wito dan
ibu yati. Dokter andre sudah lama ikut dengan keluarga ini dari awal papa wito
dan ibu yati memutuskan untuk menikah.
“
Lanjut cerita..
“
“baik dok, terimakasih sudah
membantu” kata anggi
“iya sama sama mas anggi. Itu
sudah menjadi tugas saya” kata dokter
Ibu yati melihat ke arah dian dan
mendekati nya
“dengar dian jangan bahas apa pun
masalah mu di hadapan papa. Tunggu hingga pulih. Dan kamu lutfi bantu mbak mu
untuk menemukan anak pertama mereka gimana pun caranya harus dapat anak itu.
Ibu yang akan mengurus anak itu sendiri” kata ibu yati
“bu maaf kan dian bu. Dian salah,
maaf dian bu” kata umi dian
“ibu gak habis fikir dengan jalan
pikiran kalian berdua bisa bisa nya kalian menyimpan rahasia sebesar ini selama
ini. Sudah berapalah umur anak itu ya allah semoga aku masih bisa bertemu
dengan nya” kata ibu yati dengan nada kecewa dan menunduk sambil menangis
Mbak nurul dan suci mendekat ke
ibu yati dan memeluk nya sambil mengelus bahu nya agar menenang kan ibu yati.
“
Ibu yati dan alya masuk ke
ruangan yang di mana papa wito sudah di pindahkan ke ruang inap.
Anggi lutfi dan umi dian mereka
pulang dan siap siap untuk mulai mencari keberadaan anak tersebut.
Suci dan mbak nurul Kembali ke
rumah karena harus melihat keadaan anak anak nya umi dian.
“mbak, husna dan sofi biar aku
yang bantu urus. Toh juga anak anak ku senang kalau ada mereka berdua” kata
suci
“iya ci. Aku minggu depan harus
Kembali ke Jakarta. Ada kerjaan yang tak bisa ku tinggal kan. Mas Hendra juga
ada kerjaan. Anak anak juga sebentar lagi akan bagi rapot makanya aku sempatkan
dulu untuk pulang ke sini” kata mbak nurul
Suci hanya mengangguk kan
kepalanya.
Sesampai di rumah. Husna tiba
tiba mendekat ke arah suci
“bu, umi kemana?” kata husna
“umi akan ke rumah buya dengan
adik adiknya untuk menyelesaikan sebuah masalah” kata ibu suci
“apa umi akan menjemput kakak
kami ya” kata husna
Ibu suci dan bude nurul langsung
kaget dan tatap tatapan karena dengar penuturan dari anak yang masih berumur 10
tahun ini.
“kamu tau sesuatu sayang” kata
mbk nurul (bude nya)
Husna hanya mengangguk saja
“apa yang kamu ketahui apa bisa
jelaskan ke kami?” kata bude nurul
“husna kemaren dengar buya
ngobrolin soal anak yang di buang itu. Buya ngobrol dengan opung prima. Katanya
anak itu berada tak jauh dari perkampungannya keluarga buya hanya saja buya
melupakan anak itu. Anak itu di titipkan di sebuah keluarga yang waktu itu buya
menitipkan nya dengan seorang kakek yang bernama Rizwan” kata husna sambil menjelaskan
ke bude nurul dan bu suci
Bu suci dan bude nurul saling
pandang dan kaget karena akhirnya mereka menemukan petunjuk walaupun belum
semuanya.
“mbak kabarin mbak dian dan mas
anggi untuk informasi ini” kata ibu suci
Bude nurul pun langsung menghubungi
salah satu nya dan memberikan informasi yang baru saja mereka dengar.
Husna masih terdiam tapi mulutnya
ingin berbicara lagi. Husna sedikit mengetahui rahasia orangtua nya.
“bu suci ada satu lagi” kata
husna sambil menarik tangan nya bu suci
“apa sayang katakan saja” kata bu
suci
“di rumah medan di dalam lemari
kotak hijau. Di situ tertulis nomor kakek Rizwan dan foto bayi” kata husna
Makin kaget lagi ternyata husna
memberikan petunjuk lainnya
“kamu yakin husna” kata bude
nurul
“yakin bude, husna pernah melihat
nya saat buya dan umi tidak di rumah” kata husna
“suci kabarin mbak mu biar mereka
cepat ketemu” kata bude nurul
Bu suci pun mengabari salah
satunya.
“
1 jam kemudian..
Setelah umi dian dan adik adik
nya tiba di rumah medan. Umi dian langsung masuk ke dalam rumah tersebut.
Rumah tersebut masih di huni oleh
bukhori tapi saat ini rumah ini sedang sunyi di karenakan bukhori tidak di
tempat.
Umi dian dan adik adik nya pun
masuk dan mencari petunjuk yang baru saja mereka ketahui.
30 menit kemudian, akhirnya mas
anggi pun menemukan kotak hijau yang di maksud. Mas anggi pun membuka kotak
tersbut dan benar di dalam kotak tersebut terdapat 2 lembar foto bayi dan
surat. Nomor hp kakek Rizwan pun juga ada di balik foto tersebut.
Isi dalam surat :
“Kalau sudah sadar datang lah
jemput anak yang kau titipkan ke saya. Bagaimana pun peran orangtua kandung lah
yang dia inginkan bukan orang lain apalagi tak ada hubungan darah apa pun”
Umi dian yang langsung membaca
nya dalam hati pun meneteskan air mata nya. Di lihat oleh adik nya yaitu mas
lutfi. Ia terbawa emosi dan tiba tiba menumbuk dinding kamar tersebut.
“kenapa sih kalian itu malah
menyembunyikan hal kayak gini. Urusan terima atau tidak sudah pasti keluargamu
ini menerima. Ayok kita cari anak itu ke perbaungan.” Kata mas lutfi
Mas anggi pun bangkit membantu
umi dian jalan sambil membawa kotak hijau. Tapi pada saat mau keluar rumah tiba
tiba ..
Bukhori sudah tiba di depan
dengan orangtua nya serta perempuan sholehah yang sedang mengandung.
Bukhori dan kedua orangtua nya
terkejut dengan umi dian dan adik adik nya.
“ka .. kalian” kata mereka
bertiga serempak
Semua terdiam dengan pikiran
masing masing tapi tidak dengan mas lutfi dia malah merapatkan tangannya
seperti ingin menumbuk tapi di tahan mas anggi. Tapi itu tak berlangsung lama
karena mas lutfi punya sifat yang gampang emosi dan terjadilah serangan sepihak
dari mas lutfi
Buugghht buugghh kraaakkk
Mas lutfi langsung memberikan
bogeman di wajahnya bukhori, lalu ke perut dan terakhir adalah tangan hingga
bukhori mengeluarkan darah dari mulut nya.
Semua yang melihat termasuk umi
dian yang masih menangis langsung menjerit.
Aakkkhhh (suara jeritan kesakitan
bukhori)
Aakkhh (suara jeritan wanita
tersebut dan ibunda nya bukhori)
“cukup lutfi, udah hentikan itu”
kata umi dian
“heh lutfi yang sopan kau” kata
opung prima (ayahnya bukhori)
“lutfi dengar mas hentikan emosi
mu” kata mas anggi
Akhirnya pun mas lutfi
menghentikan pukulan tersebut dan menghindar dari mereka semua.
“kita masuk dulu biar masalah nya
cepat selesai” kata opung prima
Umi dian yang melihat perempuan
lain yang sedang mengandung hanya menatap seperti ada hal yang lain.
Mas anggi menuntun umi dian untuk
Kembali masuk serta lutfi yang mengekori mereka semua.
“yang bukan keluarga silahkan
keluar” kata mas lutfi
Opung prima dan istri saling
pandang mereka melirik ke arah Wanita itu
“maaf lutfi dia bukan orang lain
dia juga berhak atas masalah ini” kata opung prima
“apa maksud kalian dia juga
berhak dengan masalah nya mbak saya” kata mas anggi
“dia adalah istri kedua bukhori”
kata ibu nya yang bernama siti
Umi dian yang mendengar jawaban
ibunda nya bukhori langsung menjatuh kan kotak hijau yang dia genggam.
Lutfi yang tadi nya sudah
meredakan amarah nya kini Kembali emosi karena mndengar jawaban dari ibunda nya
sendiri dan terjadi Kembali baku hantaman lebih brutal ke bukhori.
Kini kondisi bukhori pingsan
karena bogeman dari lutfi tidak main main jika tadi tak di lepas bisa jadi
bukhori bisa mati mengenaskan.
“kalian semua keluarga besar
bukhori silahkan datangi keluarga saya. Saya tunggu besok jika tidak maka
polisi lah yang akan menghampiri keluarga besar kalian” kata mas anggi
“kita bisa bicarakan semua ini
dengan secara kekeluargaan tidak perlu sampai polisi juga ikut campur” kata
opung prima dengan dada yang deg deg an
“TIDAK BISA. PILIHAN NYA HANYA
ADA 2 DATANG SEMUA KELUARGA BESAR ATAU POLISI YANG MENDATANGI KALIAN” kata
lutfi
“mbak mas kita pulang, urusan
anak yang kalian sembunyi nanti kita akan cari waktu lagi” kata lutfi
“kami pamit, dengar baik baik
urusan kita belum selesai” kata mas anggi
Mas anggi dan lutfi membantu umi
dian untuk keluar dari rumah tersebut.
Ya mereka semua gak ada yang
nyangka dengan berita baru. Belum selesai dari rahasia yang telah di
sembunyikan nambah lagi berita baru yang makin mengenaskan. Semua nya terdiam
di dalam mobil tanpa ada yang berani mengeluarkan sepatah kata.
30 menit kemudian mereka tiba di rumah dan
melihat seluruh keluarga sedang berkumpul.
Papa wito juga sudah diizinkan
untuk rawat jalan saja di rumah dengan dokter khusus keluarga yang akan setiap
hari mengecek keadaannya. Papa wito melihat tangan lutfi yang masih berdarah
walaupun sudah kering.
“apa yang terjadi?”
“lutfi anggi apa yang terjadi”
“kemana anak itu”
Kata bu yati yang terus bertanya
ke mereka bertiga
Huuuhh (helaan nafas mas anggi)
“bu pa besok keluarga besar
bukhori datang ke sini untuk menyelesaikan semua masalah” kata umi dian
“ada apa dian” kata papa wito
“pa aku tak berani menjelaskan
aku juga kaget dengan berita baru ini” kata umi dian tiba tiba menangis Kembali
kala dia teringat dengan kejadian yang tak terkira ini
“semua aku ke kamar dulu” kata
umi dian
Ibu yati ingin menahan tapi di
tahan oleh mbak nurul
“bu biarkan dulu dian istirahat
dia capek juga tadi baru aja sampai kan” kata mbak nurul
Kini bu yati melihat ke arah
kedua anak laki laki nya
“bisa kalian jelaskan” kata ibu
yati
“pa besok dokter andre datang
kan, ikut temanin papa hingga masalah selesai ya aku gak ingin papa kenapa
kenapa nanti nya” kata mas anggi
Bu suci dan mbak nurul hanya
melongo karena keterbingungan mereka.
“dek ada apa ini, kenapa kalian
tidak menjelaskan” kata mbak nurul yang penasaran
“mbak aku juga kaget apalagi
lutfi, tapi aku harus bilang dulu ke kalian berdua, aku belum berani bilang ke
ibu dan papa mbak, takut malah drop” kata mas anggi
“jelaskan aja nggi, pelan pelan
gapapa” kata mbak nurul
Akhirnya pun mas anggi dan lutfi
menjelaskan kejadian yang mereka alami tadi pada saat sampai di rumah. Mereka
berdua juga menceritakan soal kotak hijau yang di simpan bukhori. Selama
menjelaskan ibu yati sempat lemas mendengar cerita tersebut dan papa wito
berusaha untuk kuat dan terus mendengarkan certa selanjutnya.
Setelah mendengarkan nya
“suruh sekarang mereka untuk
jumpai kita di rumah ini, nurul pastikan suami dan istri dari adik adik mu juga
ikut kumpul. Urusan anak anak biar jadi urusan baby sister biar di ajak ke
playground dulu” kata papa wito dengan nada tegas
Mbak nurul pun melaksanakan apa
yang telah di suruh oleh papa wito untuknya.
“


No comments:
Post a Comment