Saat mereka hendak masuk mereka
terheran heran dengan tingkah kedua kali nya dari cicit akung wito.
Tiba tiba mereka melihat ke seisi
rumah hingga melongok
“kalian kenapa belum masuk kamar
juga” kata akung tito
Semua cucu cucu nya akung wito
Kembali lihat sama sama ke arah sumber suara yaitu poisi nya di belakang
mereka.
Mereka Kembali senyum senyum
karena ketahuan masih bengong melihat rumah yang mereka datangi.
Gimana gak bengok mulu rumah yang
mereka datangi lebih dari istana tambah pavilion nya saja makanya besar sekali.
“
Kini para cucu nya akung wito
sudah berada di dalam kamar yang di lantai tengah yang sudah di pilih atas
kesepakatan Bersama.
“
Waktu malam hari tiba.
Para maid dari siang hingga sore mereka
sudah pada sibuk di dapur di karenakan harus memaksa besar dengan porsi banyak.
Karena isi di dalam rumah juga banyak orang nya.
“makan makan” kata uti fanny
Semua yang ada di dalam ruangan
serta di luar ruangan kini berada di dalam ruang makan. Semua nya beratur untuk
mengambil makanan.
Hanya ada obrolan kecil kecil
saja tanpa berisik. Karena di atuan keluarga mereka tidak boleh terlalu lama
untuk makan agar tidak di makan oleh setan. (begitulah).
“
Kini pukul 08.00
Semua para cucu yang masih muda
mereka berkumpul di halaman samping yang dimana terdapat kolam ikan serta
gazebo dan ada beberappa taman bunga nya juga.
Mbak pita dan mbak resti datang
Bersama beberapa maid membawa cemilan cemilan di halaman samping
“letak di sini aja bi, makasih
ya. Maaf merepotkan” kata mbak resti
“sama sama non, tdidak merepotkan
ini memang sudah tugas nya kita. Kalau ada perlu lagi tekan tombol ya non.
Permisi” kata bi muna
Bi muna adalah kepala bibi nya,
dia yang mengatur para bibi lain nya. Kalau sudah seperti ini dia akan ikut
serta juga membantu.
Kita lanjut di halaman samping
“pada di makanin semua nya” kata
mbak resti
“iya makanin ni jangan malu malu
ya” kata mbak pita
Cucu dari akung wito mereka
saling tengok tengokan.
Jujur saja mereka canggung malu
campur aduk karena mereka baru pertama kali ke jogja apalagi rania yang dari
awal belum pernah kenal dengan keluarga besar.
Mbak pita mendekat ke rania
“de rania, kamu mau gak tinggal
di jogja” kata mbak pita sambil tersenyum
“hah, a-aku gak tau m-mbak, aku
ngikut apa kata umi saja” kata rania terbata bata
“kamu kenapa gugup gugup?” kata
mbak pita
“takut salah ngomong mbak, maaf”
kata rania sambil menundukkan kepala nya
“semua yang ada di sini itu
keluarga kamu, inilah keluarga besar Zawawi. Kalau kamu tinggal di jogja kamu
akan sering bertemu dengan keluarga Zawawi yang lain.” Kata mbak pita
“benar rania, kami semua adalah
keluarga mu, sepupu sepupumu bukan hanya dari keluarga nya akung wito saja,
dari kekeluarga Zawawi yang lain juga itulah keluarga besar nya” kata mbak
resti
“rania, aku yakin kamu akan betah
kalau tinggal di jogja kita akan sekolah bareng” kata yanti
“kita bukan nya sekolah di tempat
uti fanny” kata rani
“la hiya benar lagi” kata yanti
Keluarga cucu akung wito mereka
saling diam masih kurang paham dengan pembahasan mereka. Mereka hanya dengar
“sekolah nya di tempat uti fanny”
Tapi di dalam keterdiaman mereka,
mereka saling kode lewat mata tapi hati terus berkata
“maksudnya sekolah uti fanny?”
kata hati husna
“jangan jangan uti fanny orang
yang lebih kaya dari adik adik nya atau abang nya?” kata hati Fathia
“gila sih ini, memang benar benar
keluarga sultan” kata alya
“seperti nya iya beneran pemilik
sekolah nya adalah uti fanny” kata hati raina
Oke balik ke para sepupu lain nya
“udah udah jangan cerita hal lain
dulu. Mbak tadi dengar di dalam kalau umi dian dan anak anak nya akan pindah di
jogja” kata mbak pita
“seriusan mbak?” kata Fathia
“iya Fathia, loh kamu dan yang
lain apa belum tau?” kata mbak pita
Fathia dan keluarga cucu akung
wito saling menggelng dan menatap ke ketiga anak anak nya umi dian
“dan juga tadi akung wito bilang
kalau keluarga nya bu suci dan om anggi akan pindah ke bandung dalam tahun ini”
kata mbak resti
Kembali membola mata Fathia dan
keluarga akung wito
“kami gak tau apa apa mbak,
justru kami tau nya dari mbak berdua” kata nisa
Di posisi husna, sofi, raina dan
Fathia mereka menunduk dengan perasaan sedih dengar berita berita yang baru
saja mereka dengar.
“
Kini malam semakin malam,
Semua nya Kembali ke kamar masing
masing.
Disaat semua orang sudah memilih
masuk ke alam mimpi beda dengan anak anak dari keluarga akung wito mereka masih
terbangun kecuali adik adik yang masih kecil mereka di harus kan tidur.
Kini tinggal husna, nisa, Fathia,
raina, alya, Danish, dan aji. Mereka membentuk lingkaran, masih diam diaman.
“ini hal yang sangat sangat mengejutkan
bagi kita semua, mungkin nisa belum terlalu kaget karena dia tidak tinggal
dekat kalian. Mbak juga termasuk yang sangat sangat sedih kalau harus berpisah
jarak jarak nya dengan keluarga yang lain, apalagi kita baru saja bertemu” kata
mbak raina
“kita masih bisa bertemu saat
liburan, kita masih bisa liburan” kata husna sambil tersenyum melihat ke arah
sepupu sepupu lain nya yang sudah tampak sedih.
“iya kita memang berpisah tapi
kita masih tinggal di satu negara hanya pulang dan beberapa kota yang membuat
kita berjarak. Berjanjilah dari sekarang kalau kita akan selalu bertemu dan
berlibur bareng saat libur sekolah tiba. Kita akan keliling dunia” kata Fathia
di akhiri senyum manis nya
“iya kita harus terus bertemu”
kata aji
Yang lain ikut mengangguk dan
tersenyum ke yang lain nya juga. Dan berakhir lah berpelukan
“ya allah, ternyata begini
rasanya keluarga kandung yang sesungguh nya, aku pikir keluarga ku hanya lah
bapak Rizwan ternyata ini jauh dan makasih ya allah telah pertemukan aku dengan
yang sangat sangat baik ini” kata hati rania sambil memeluk sepupu sepupu lain
nya.
Akhirnya pun mereka semua
tertidur di tempat tidur masing masing.
Sebenarnya di kamar tersebut ada
tempat tidur satu gitu yang bisa muat hingga 4 orang anak anak. Tapi mereka
meminta ke para bibi untuk pakai bed yang di bawah aja di susun memanjang biar
tidur berdempet dempetan.
Mereka tak menyadari, saat mereka
sudah terlelap, akung wito yang tadi nya ingin mengecek para cucu hingga gak
jadi di karena kan mendengar pembicaraan mereka.
Bukan hanya akung wito tapi uti
fanny juga ikut mendengar, mereka menunggu hingga para cucu sudah terlelap.
Saat itulah akung wito dan uti
fanny masuk, uti fanny sengaja membawa camera pocket untuk mengabadi kan setiap
momen yang ntah bisa atau tidak terulang Kembali.
Uti fanny tersenyum melihat
kekompakan keluarga wito.
“






