BAB 19 - AFANDI PRO

Tips & Tutorial Computer

KONTAK SAYA

| Whatsapp : 0895 6132 03001 | Facebook : Afandi Husin | Instagram : @Afandi_Husin | YouTube Afandi Pro |

Post Top Ad

Wednesday, May 13, 2026

BAB 19

 

Seminggu setelah nya..

umi dian dapat telpon dari mantan adik ipar nya yaitu yanti.  Yanti menghubungi umi dian ingin mengabari hal baru.

“assalamualaikum mbak, apa kabar nya ?” kata yanti

“waalaikumsalam yanti, alhamdulillah kabar saya baik yanti, kamu gimana kabar nya sekarang?” kata umi dian

“mbak jangan lah terlalu formal. Bisakan kita ngobrol santai” kata yanti

“santai aja yanti, mbak juga ama naman aja kok. Ada apa yan, seperti nya ada hal yang ingin kamu bicarakan ke mbak” kata umi dian yang langsung to the point saja

Jujur saja saat sebelum menerima panggilan tersebut, umi dian tadi niat nya gak ingin untuk mengangkat nya karena bagi nya adalah semua masa lalu sudah hilang. Tapi akhirnya umi dian pun mengangkat panggilan tersebut

“mbak jujur sebenarnya aku gak ingin ceritakan ini ke mbak karena pasti nya mbak udah gak peduli dengan keluarga kami semuanya.” Kata yanti

“ada apa yanti katakan lah” kata umi dian

“mbak, ayah sudah meninggal dan ibu ..” kata yanti yang menggantungkan percakapannnya

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, sakit kah yanti? Dan ibu kenapa?” kata umi dian

“ibu mengalami struk berat dan ibu juga sering nyebut nama rania mbak” kata yanti langsung menjelaskan

“hah rania, kenapa sampai menyebut nama rania?” kata umi dian

“hanya itu saja yang sering di ucapkan ibu mbak, husna dan sofi juga di sebut tapi yang paling sering itu rania” kata yanti

“kapan ayah meninggal nya yanti?” kata umi dian

“sudah satu tahun yang lalu mbak, dari mulai ayah telah meninggal dan istri kedua nya bang buqhori malah selingkuh dan dari situlah ibu mulai strok dan hanya bisa tidur natap langit langit sambil nyebut nama ketiga anak anak mbak tapi tetap yang paling sering di sebut nya adalah rania mbak” kata yanti

“astagfirullah, mbak akan ajak anak anak untuk mengunjungi nenek nya” kata umi dian

“jangan di paksa mbak, jika mereka belum terima gapapa karena aku juga sebenarnya masih ada rasa sakit di masa lalu” kata yanti

“yanti, kabarin tentang perkembangan ibu ya. Dan untuk masa lalu mbak rasa anak anak juga sudah melupakan nya” kata umi dian

“aku sangat sangat berterima kasih dengan mbak yang mau mengusahakan untuk datang ke rumah ini lagi. Dan aku juga sangat sangat berterima kasih ke anak anak mbak jika mereka benar benar sudah memaafkan kesalahan di masa lalu” kata yanti

“kami sudah memaafkan kejadian di masa lalu yan, nanti mbak coba ngobrol dengan mereka” kata umi dian

“iya mbak, maaf jadi curhat dan makasih mbak” kata yanti

“iya yanti sama sama sehat sehat ya, beri kabar mbak tentang ibu” kata umi dian

“iya mbak , insyallah aku akan selalu kabarin mbak tentang perkembangan ibu ke mbak dian. Yaudah mbak maaf jadi mengganggu waktu istirahat nya. Assalamualaikum mbak” kata yanti

“tidak mengganggu kok yanti, waalaikumsalam” kata umi dian

Telepon pun berakhir.

Umi dian pun beristirahat.

Keesokan hari nya, hari weekend.

Di kediamannya umi dian, mereka berempat sedang menikmati waktu santai di halaman samping

“ada yang mau umi sampaikan ke kalian” kata umi dian

Mereka membenarkan posisi duduk nya dan terfokus ke umi dian

“ada apa umi, sampaikan lah jika itu yang akan membuat umi menjadi lega” kata husna

“buy anti, adik nya buya kalian tadi malam menelpon umi” kata umi dian

“buat apalagi keluarga itu menelpon umi” kata sofi

Diantara ketiga anak umi dian hanya sofi lah yang masih sangat sangat emosi kalau sudah membahas tentang keluarga buya nya. Sofi sangat sangat benci dengan keluarga tersebut. Saat ini sofi mendengarkan katanya adik dari buya nya menghubungi umi nya.

“apa yang di katakana buy anti mi” kata raina

“ada beberapa hal yang akan umi sampaikan yaitu berita buruk dari keluarga mereka” kata umi dian

“baguslah mi kalau mereka sedang kena musibah, aku masuk mi gak niat untuk mendengarkan cerita selanjutnya” kata sofi yang akan bangkit

Tapi selak di tahan mbak rania dan menyuruh nya Kembali duduk.

“duduk fi, kita dengar kan dulu apa ceritanya, dan kamu tahan emosi. Cerita sudah lama, kita juga merasakan nya walaupun mbak pernah ngerasain di sayang atau bahkan di peluk oleh buya, tapi tetaplah dia ayah kandung kita. Kita dengarkan dulu semuanya” kata mbak rania

Akhirnya pun sofi Kembali duduk dengan wajah di tekuk

“jadi bagaimana mi” kata husna

“dia mengabarkan bahwa opung prima telah meninggal dunia, dan nenek kalian sedang terbaring di rumah sakit. Tapii” kata umi dian yang tak melanjutkan ucapannya

Inalillahi wainna lillahi rojiun (serempak mereka bertiga)

“tapi apa mi” kata rania

“nenek kalian memanggil nama kalian bertiga dan yang paling sering dia panggil yaitu rania” kata umi dian menjelaskan sambil memandangi rania

“kenapa bisa rania mi” kata rania

“umi juga gak tau sayang, bu yanti sempat mengirimkan video kalau selama sakit dia hanya mencari kalian bertiga” kata umi dian

“ini video nya” kata umi dian sambil menyerah kan video dari obrolan chat mereka berdua ke tiga anak nya

Ketiga anak tersebut merasa iba dengan keadaan nenek tersebut, sofi pun yang tadi sangat keras kepala pun akhirnya pun tersentuh dengan keadaan nenek nya

“mi apa umi akan mengajak kami untuk melihat nenek” kata rania

“rencana seperti itu nak, sekalian kita singgah ke rumah bapak kamu, kita ajak mereka jalan jalan kaka kaka mu juga” kata umi dian

“akum au mi, aku akan izin cuti ke perusahaan agar kitab isa pulang ke medan” kata rania

“husna juga akan izin kuliah mi” kata husna

“so- sofi juga mi izin sekolah” kata sofi yang masih terbata bata menyempaikan nya

“alhamdulillah kalau kalian memang mau untuk menjenguk mereka. Umi akan mengabari pihak kampus dan sekolah kalian untuk meminta izin” kata umi dian

“kita berap lama mi” kata rania

“14 hari saja rania, karena tujuan kita ada dua nenek kalian dan keluarga angkat rania” kata umi dian

Mereka bertiga pun mengangguk sambil masih memikirkan keadaan nenek nya

“mi kami siap siap kan baju dan lain lain nya” kata sofi

“iya sayang siap siaplah, umi juga sekalian mau ngabarin bu yanti kalau hari ini kemungkinan malam kita akan sampai” kata umi dian

Ketiga anak anak tersebut masuk ke kamar masing masing dan mengambil masing masing koper yang mereka simpan dan mulai Menyusun baju baju yang akan di bawa serta perlengkapan lain nya.

2 jam kemudian mereka pun telah selesai bersiap siap kini mereka di ruang tamu sambil menunggu supir mempersiapkan mobil yang akan mengantar kan mereka ke bandara.

Umi dian juga sempat menagabari mbak nurul serta adik adik nya bahwa dia akan pulang ke medan untuk 2 keperlua tersebut.

Mereka awalnya tidak setuju karena takutnya terjadi apa apa tapi anggi menyuruh anak buah nya untuk menjaga dan mengikut keluarga umi dian kemana pun berapa.

Umi dian sempat menolak tapi demi kekhawatiran keluarga besar semuanya ia pun menyetujui.

Tiba di bandara..

Mereka menunggu giliran untuk naik ke pesawat, mereka tidak menggunakan pesawat yang banyak penumpang, lebih tepatnya mengambil kelas bisnis agar lebih cepat nyampai juga.

Oh ya mereka ada peninggalan pesawat dari papa wito, masing masing anak akung wito semuanya dapat 1 keluarga 1 pesawat dan juga kapal. Tapi mereka memilih untuk ikut gabung dengan pesawat lain di karenakan pesawat pribadi mereka sedang ada perbaikan.


No comments:

Post a Comment

iklan

Post Top Ad


free vectors | free css3 templates | agence web chartres