AFANDI PRO

AFANDI PRO

Tips & Tutorial Computer

KONTAK SAYA

| Whatsapp : 0895 6132 03001 | Facebook : Afandi Husin | Instagram : @Afandi_Husin | YouTube Afandi Pro |

Post Top Ad

Post Top Ad

Saturday, April 11, 2026

BAB 9 - AKHIRNYA TIBA WAKTUNYA

April 11, 2026 0

 


Pagi hari tiba..

Umi dian sudah terbangun dari jam 4 subuh karena umi dian selalu melakukan shalat sunah terlebih dahulu kemudian setlah itu membangunkan anak anak nya untuk ikut shalat berjamaah.

Bukan hanya keluarga umi dian saja tapi juga seluruh keluarga yang tinggal di rumah kebesaran tersebut.

Pukul 07.30, umi dian sekeluarga serta keempat saudara kandung nya akan bersiap siap untuk hadir di persidangan . papa wito dan ibu yati juga ikut serta keluarga kandung mereka di wajibkan hadir untuk menjadi saksi.

Setelah sarapan mereka pun pamit dengan anak anak serta pasangan nya mereka dan lanjut untuk menuju Gedung persidangan tersebut.

Tiba di Gedung..

Keluarga buqhori sampai dengan yang bersangkutan saja termasuk arini juga ikut serta. Opung prima melihat ke arah anak gadis perempuan yang usia nya lebih besar dari husna. Menatap heran dengan kebingungan.

Yanti adiknya buqhori juga melihat ke arah yang sama.

“mbak, siapa anak ini’ kata yanti

“ini lah anak yang di sembunyikam abang kau” kata anggi

Semua keluarga buqhori syok dengan jawaban anggi. Terutama arini yang langsung melihat anak yang sudah dia hina hina waktu lalu.

“gak mungkin, pasti itu anak dari pria lain. Jangan percaya bang” kata arini sambil memegang buqhori karena masih melamun.

Buqhori melihat ke arah arini dan menatap tajam nya

“jangan sembarangan bicara arini, dia memang anak kami” kata buqhori

“abang tak pernah bertemu dengan nya dari mana abang tau kalau ini dia” kata arini geram

“aku pernah mengunjungi rumah nya dan hanya sebentar lepas itu aku pergi” kata buqhori

Opung prima dan istrinya syok dan menatap tajam ke buqhori. Arini sudah geram karena buqhori seakan akan membela umi dian.

Keluarga umi dian hanya diam tapi papa wito mengkode anak anak nya untuk masuk ke ruangan dan mengabaikan keluarga tersebut.

“dian ayuk masuk, sudah waktu nya” kata papa wito

Keluarga umi dian pun mengangguk dan berjalan melewati mereka semua.

Tak berapa lama pun keluarga buqhori juga mengikuti ruang masuk tersebut.

Sidang pun di mulai..

Ruang sidang itu terasa lebih dingin dari biasanya.
Bukan karena pendingin udara yang terlalu kuat, melainkan karena kebenaran yang akhirnya dipaksa berdiri telanjang di hadapan hukum.

Ia duduk di kursi penggugat, punggungnya tegak namun dadanya bergetar hebat. Tangannya saling menggenggam, menahan amarah yang selama bertahun-tahun dipendam dalam diam. Di seberangnya, lelaki yang pernah ia sebut rumah justru menunduk—bukan karena menyesal, melainkan karena ketahuan.

“Hari ini,” suara hakim memecah keheningan, “kita tidak hanya membahas perceraian, tapi juga rangkaian kebohongan yang disengaja.”

Ia menelan ludah. Kata kebohongan itu terlalu sederhana untuk menggambarkan apa yang telah ia alami.

Perselingkuhan.

Pernikahan rahasia.

Seorang perempuan lain—yang kini mengandung—dan semuanya terjadi saat ia masih sah sebagai istri.

Namun yang paling menghancurkan bukan itu.

“Saudari penggugat,” lanjut hakim, “benarkah anak pertama yang saudari lahirkan dulu dinyatakan meninggal oleh tergugat?”

Air matanya jatuh tanpa izin.

“Benar, Yang Mulia,” jawabnya dengan suara bergetar. “Saya diberi tahu anak saya meninggal saat dilahirkan. Tapi ternyata… anak itu hidup.”

Ruang sidang bergemuruh pelan.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan—kali ini dengan keberanian yang lahir dari luka.

“Anak saya diberikan kepada orang lain. Tanpa persetujuan saya. Tanpa sepengetahuan saya. Selama bertahun-tahun saya hidup dalam duka palsu yang ia ciptakan.”

Lelaki itu akhirnya mengangkat wajahnya.
Namun tidak ada air mata di sana. Tidak ada penyesalan yang nyata.

“Hari ini saya tidak meminta belas kasihan,” katanya tegas sambil menatap lurus ke depan. “Saya hanya menuntut keadilan. Untuk diri saya… dan untuk anak yang akhirnya berhasil saya temukan kembali.”

Hakim mengetukkan palu.

“Pengadilan mencatat,” katanya serius, “bahwa rumah tangga ini runtuh bukan karena kegagalan cinta, melainkan karena pengkhianatan yang berlapis.” Ia menutup mata sesaat.
Di balik semua kehancuran ini, ia tahu satu hal pasti: Ia memang kehilangan seorang suami.
Namun ia berhasil merebut kembali dirinya sendiri—dan seorang anak yang tak seharusnya pernah direnggut darinya.

Putusan Sidang

Palu hakim terangkat lebih tinggi dari sebelumnya.
Ruang sidang kembali sunyi—sunyi yang menyesakkan, seakan semua napas ditahan bersamaan.

“Setelah mempertimbangkan seluruh bukti, keterangan saksi, serta pengakuan tergugat,” ucap hakim dengan suara berat, “pengadilan menyatakan bahwa tergugat terbukti melakukan perselingkuhan berulang, pernikahan tanpa izin istri sah, serta penipuan terhadap penggugat terkait keberadaan anak pertama.”

Ia menegakkan tubuhnya. Inilah detik yang selama bertahun-tahun ia tunggu—detik ketika kebohongan itu tak lagi bersembunyi di balik senyuman palsu.

“Dengan ini,” lanjut hakim, “pengadilan mengabulkan gugatan cerai penggugat secara penuh.”

Palu diketukkan.

Suara itu bukan sekadar tanda putusan, melainkan akhir dari sebuah penjara bernama pernikahan.

“Perkawinan antara penggugat dan tergugat dinyatakan putus karena perceraian, terhitung sejak putusan ini berkekuatan hukum tetap.”

Air mata kembali jatuh, tapi kali ini bukan karena hancur.
Ini adalah air mata kelegaan.

Hak Asuh Anak

Hakim membuka berkas lain, lalu menatapnya dengan sorot yang lebih lembut.

“Terkait anak,” katanya, “pengadilan menetapkan bahwa hak asuh penuh berada di tangan ibu sebagai penggugat.”

Dadanya terasa lapang.

“Termasuk anak pertama yang sempat dipisahkan secara melawan hukum,” lanjut hakim tegas. “Tergugat dinyatakan telah melanggar hak seorang ibu dan hak anak untuk tumbuh bersama orang tua kandungnya.”

Ia memejamkan mata. Akhirnya… anak itu kembali menjadi miliknya, bukan sekadar darah dan nama, tapi juga secara hukum.

“Tergugat tetap diberikan hak kunjung terbatas,” kata hakim, “dengan pengawasan dan syarat ketat, demi keselamatan psikologis anak.”

Lelaki itu terlihat ingin berbicara, namun suaranya tenggelam sebelum sempat keluar.

Hukuman untuk Suami

“Selain itu,” suara hakim kembali mengeras, “pengadilan menjatuhkan kewajiban nafkah anak dan nafkah iddah kepada tergugat.”

Ia mengangguk kecil. Bukan karena uangnya—melainkan karena tanggung jawab yang akhirnya dipaksakan pada lelaki yang selama ini lari.

“Tergugat juga diwajibkan memberikan ganti rugi moral atas penderitaan psikologis yang dialami penggugat akibat penipuan dan penghilangan anak.”

Ruang sidang kembali bergemuruh.

“Dan atas tindakan penyerahan anak kepada pihak lain tanpa persetujuan ibu kandung,” hakim menutup, “pengadilan merekomendasikan proses hukum lanjutan sesuai ketentuan pidana yang berlaku.”

Lelaki itu kini benar-benar pucat. Bukan karena kehilangan istri—melainkan karena kehilangan kendali.

Saat sidang dinyatakan selesai, ia berdiri dengan langkah pelan namun mantap. Ia bukan lagi perempuan yang datang dengan luka, melainkan ibu yang pulang membawa keadilan.

Ia menoleh sekali lagi—bukan untuk memohon, bukan untuk membenci.

Hanya untuk memastikan satu hal:

Kebenaran, meski terlambat, tetap menemukan jalannya.

Dan hari itu, di ruang sidang yang dingin,
ia tidak hanya memenangkan perkara.

Ia memenangkan hidupnya kembali.

Ia bukan lagi perempuan yang dibohongi. Ia adalah ibu yang menang. Dan dari reruntuhan pernikahan yang penuh dusta, ia membangun hidup baru—bersama anak yang akhirnya kembali ke pelukannya.


Read More

Thursday, April 9, 2026

BAB 8 - KUMPUL BERSAMA

April 09, 2026 0

 


Di rumah Keluarga papa wito dan ibu yati…

“pa apakah anak anak kita bisa menemukan anak malang itu” kata ibu yati

“aku yakin mereka akan berusaha keras untuk menemukan anak itu” kata papa wito

“pa kita harus rawat anak itu, aku tidak percaya dengan ucapan arini tadi kalau anak itu ngemis ngemis” kata ibu yati

“kayak nya gak mungkin bu, sedangkan bukhori nya saja bilang anak itu baik baik saja” kata papa wito

“semoga saja ya pa, aku berharap masih ada kesempatan untuk mengurus nya d umur kita yang tak muda lagi ini” kata bu yati

“insyaallah kita masih di beri kesempatan bu.” Kata papa wito

Di mobil ..

Belum ada percakapan antara siapa dan siapa

Rania yang melamun melihat ke arah luar jendela dengan tubuh yang masih gemetaran. Umi dian yang sadar karena rania menjadi diam akhirnya menegur nya pelan

“rania” kata umi dian dengan lembut

Rania pun membalikkan badan nya

“iya umi” kata rania

“nanti kita akan bertemu lagi mereka. Sekarang rania harus Kembali dulu dengan keluarga kandung rania ya” kata umi dian

“iya umi, maaf kan rania yang terlalu larut dalam kesedihan ini. Jujur umi ini berat tapi gak bisa di ..” kata rania yang belum mengakhiri kata kata nya dan malah berujung menangis dalam pelukan umi dian

Begitu pun umi dian juga merasakan rasa sakit tersebut memeluk erat nya.

Selang beberapa jam kemudian mereka pun tiba di rumah besar papa wito. Kemudian anggi memarkirkan mobilnya.

Papa wito dan bu yati yang memang posisi nya sedang di teras pun di buat berdiri dan melihat kea rah mobil mereka.

Ehmmm …

“rania. Adik adik mu semua sudah menunggu. Kita turun yuk” kata lutfi

Rania hanya mengangguk sambil bingung dan melihat ke arah umi dian

“ayuk nak, semua keluarga kamu sudah menunggu di dalam. Umi akan kenal kan semua nya ke kamu, jangan takut ya sayang” kata umi

“i-iya umi” kata rania

Akhirnya pun mereka turun Bersama. Dan …

Papa wito dan bu yati langsung terfokus ke arah anak kecil yang di belakang nya langsung bebinar mata mereka berdua saat melihat anak kecil cantik dengan pakaian sopan serta hijab yang senada dengan baju nya

“assalamualaikum” kata mereka berempat

“waalaikumsalam” sahutan dari orang yang ada di rumah

“bu pa kenalkan ini Namanya rania. Anak pertama ku” kata umi dian

Semua yang melihat ke arah rania terpana dengan gadis cantik sholehah dengan kerudung yang menutupi kepala nya.

Rania tersenyum tipis melihat ke mereka semua, walaupun dengan keterbingungan yang dia lihat langsung .

“ra-rania, sini sama uti dan akung sayang” kata ibu yati

Rani melihat ke umi dian dan umi dia tersenyum kemudian mengangguk kan kepala nya tanda setuju

Rania pun mendekat ke papa wito dan ibu yati,

“assalamualaikum uti akung, kenalkan nama saya rania amalia putri” kata rania ramah dan sopan saat berdekatan dengan papa wito dan ibu yati

“masyallah sopan banget kamu nak, orangtua angkat mu mengajar kan hal baik pada mu. Alhamdulillah kamu di jaga dan di rawat orang baik. Masyallah cantik banget nak kamu mirip dengan uti” kata papa wito

“apa iya umi” kata rania malah bertanya ke umi dian

“iya nak, dari mata mu yang kecil itu terlihat sekali kalau kamu sangat mirip dengan uti” kata um dian

Semua yang melihat ke rania dan ibu yati juga mengangguk tanda setuju.

Tiba tiba semua anak anak berkumpul dengan berkenalan dengan rania

“assalamualaikum mbak, kenal kan aku nisa anak dari bude nurul dan pakde Hendra yang pertama, yang kecil ini Namanya arik adik nya aku” kata nisa

“nama kamu sama seperti kakak ku yang di sana” kata rania

Sambil berkenalan sambil berjabat tangan. Semua sepupu sudah saling kenal dengan rania. Rania yang tadinya dia sangat canggung pun akhir nya dia merasa nyaman dengan di keluarga baru itu.

Mereka bermain Bersama hingga waktu menjelang malam, bahkan mereka shalat bareng dengan akung serta uti nya.

Pas pulak keluarga semuanya pada bisa shalat jadinya adalah tu shalat berjamaah. Shalat tersebut pun di laksanakan di ruang tamu karena mereka yang jumlah nya lumayan banyak dan ruang tamu juga luas makanya mereka memilih shalat berjamaah nya di ruang tamu.

Yang memimpin shalat nya adalah anggi dan yang membacakan doa setelah shalat nya bergantian dengan lutfi. Yang biasanya membaca doa adalah buqhori tapi kini kandung nya umi dian lah yang membacakan doa setiap selesai shalat berjamaah.

Waktu malam..

Makan malam pun di mulai, di rumah ini lagi banyak masak karena mereka merasa happy setelah kedatangan orang baru yang dimana kandung nya mereka telah berkumpul Kembali.

Setelah selesai makan. Para anak anak mereka bermain di taman samping yang dijaga masing masing dengan baby sister dan beberapa pembantu lain nya.

Sedang kan para orangtua mereka hanya melihat dari dalam saja dengan perasaan Bahagia.

“dian besok hari sidang mu, rania di ajak ya buat jadi bukti” kata papa wito

“apa boleh pa, aku takut rania malah takut saat bertemu dengan keluarga itu” kata umi dian

“dia harus ikut hadir dian, bagaimana pun juga dia kandung nya kalian, pengurus juga harus tau faktanya” kata nurul

“iya mbak besok semua anak anak akan ku bawak kok. Tapi kalian juga ikutan kan?” kata umi dian

“ya pastilah. Setelah itu kita akan pergi jalan jalan kok” kata suci

“emang nya mau ke mana” kata anggi

“ke jogja” kata papa wito

“apa tekejar waktu nya pa?” kata nurul

“tekejar kita kan punya pesawat sendiri loh, kapan aja bisa berangkat malam sekalipun kita masih bisa berangkat” kata papa wito

Saat pembicaraan para orangtua terdengar oleh nisa dan husna saat mereka sedang masuk ke dalam ingin mengambil minum. Husna mendengar kata “pesawat” . antara husna dan nisa hanya saling pandang pandangan saja hingga nisa menarik husna mendekat ke orang tua.

“ma, kita akan pulang” kata nisa

Semuanya menatap ke arah anak perempuan dua dua tersebut dengan tersenyum.

“tidak sayang” kata ibu yati

“kita akan liburan” kata papa wito

“kemana akung” kata husna penasaran

“kita akan pulang kampung ke jogja selama 2 minggu di sana sekalian kumpul dengan keluarga besar kita semua” kata papa wito

“waaaahhhh, serius akuungg” kata mereka berdua

Papa wito hanya mengangguk dengan bahagia saat melihat ke dua anak perempuan tersebut bertanya hingga menimbulkan kehebohan seperti itu.

Malam tersebut pun di akhiri dengan kehebohan yang diciptakan para anak anak tersebut. Para orangtua yang tadi nya sudah di beritahukan akan pergi liburan pun mulai menyibuk nyibukkan diri untuk perlengkapan yang akan di bawa.

Papa wito pun tak lupa mengabari ke pilot dan yang ngurusin pesawat pribadi untuk stand by di tempat.

Hingga pun mereka beristirahat..

Malam ini adalah malam pertama bagi rania untuk bisa tidur dengan keluarga kandung nya. Ya awal nya rania bingung mau tidur dimana karena umi dian posisi nya di tengah antara husna dan si bungsu.

Si bungsu memang tidak bisa jauh jauh dari umi, saat keterbingungan rania, husna menyadari hal itu hingga akhir nya husna menarik mbak rania untuk ikut tidur bareng di sebelah nya .

“sini mbak samping husna” kata husna sambil menarik rania

Rania hanya mengikuti saja dan akhirnya pun mereka terdiam. Umi dian biasanya untuk menidurkan anak anak nya dengan membaca kan dongeng dongeng tentang nabi nabi, tapi kini umi dian hanya bercerita tentang keluarga hingga akhir nya mereka semua pun tertidur.


Read More

Tuesday, April 7, 2026

BAB 7 - BERTEMU (Kumpul)

April 07, 2026 0

 


Lanjut ke cerita.

“sebelum nya bapak minta maaf ke rania lia febi dan nisa yang sudah membohongi kalian selama ini. Sebenarnya rania bukan anak kandung bapak dan mamak ..” kata kakek Rizwan

Rania yang sudah mulai paham perkataan seperti itu kaget dan syok sambil melihat ke arah kakek Rizwan agar melanjutkan fakta lain nya. Ketiga anak kakek Rizwan juga pasti nya syok tidak dengan kedua anak lain nya serta mamak nya mereka.

“bapak minta maaf sayang, bapak benar benar minta maaf. Pada saat itu bapak juga bingung sama mamak karena tiba tiba di datangi seorang pria muda yang sedang menggendong seorang bayi yang baru saja lahir. Dia meminta bapak untuk menerima bayi itu. Mamak sempat menolak karena berpikir kami juga sudah punya anak banyak tapi karena melihat anak kecil itu makin menangis akhir nya pun bapak dan mamak menerima anak tersebut. Dan anak tersebut adalah rania.” Kata kakek Rizwan yang langsung melihat ke rania

Rania yang langsung paham makin syok

“la-lalu kemana orangtua rania, kenapa mereka membuang rania pak. Apa salah rania” kata rania sambil terbata bata

Alika yang melihat rania tiba tiba nangis mendekat ke rania sambil menenangkan nya

“kak aku anak yang tak di harap kan orangtua kandung ku kak” kata rania sambil dalam tangisan nya

Umi dian lutfi dan anggi melihat langsung tangisan rania.  Umi dian nyesek hati nya saat rania mengatakan “anak yang tak di harapkan ..

Seandai nya umi dian cerita yang sebenar nya tanpa ada yang di tutup tutupin semua ini tak akan terjadi. Kemudian umi dian mendekat ke rania dan mencoba merangkul nya walaupun tangan dan tubuh nya sudah gemetaran.

“na-nak rania, sa-sayang ini u-um-umi sayang. Ibu kandung nya rania, ma-maafkan umi sayang” kata umi dian berusaha merangkul rania walaupun sedang di peluk kakak nya.

Rania yang masih dalam pelukan kakak nya pun melepaskan pelukan tersebut dan merenggangkan pelukan antara umi dian dan dirinya.

“ke-kenapa umi memberikan rania dengan orang lain yang bukan keluarga kandung rania umi, apa benar aku adalah anak yang tak di harapkan” kata rania di akhiri nada tinggi

Umi dian menggeleng gelengkan kepala nya sambil menangis menatap rania yang juga ikutan menangis.

“sa-sayang maafkan umi, umi tidak tau apa yang terjadi saat setelah melahir kan kamu sayang. Ayah mu tidak memberitahukan kenyataan yang sebenar nya ke umi sayang. Umi berani bersumpah kalau umi tidak tau yang sebenar nya sayang” kata umi dian terus berusaha menjelaskan nya

“kenapa ayah rania tidak mau memberitahukan yang sebenarnya ke umi” kata rania

“karena dia tidak menginkan seorang anak perempuan” kata umi dian

Semua yang ada di sana, semua nya mendengar apa yang baru saja di ucapkan umi dian

Astagfirullah

Mereka semua istigfar dan kaget dengar jawaban yang sebenarnya dari ayah nya rania

“kalau dia tak menginginkan seorang anak perempuan tak payah dia buat anak orang hamil” kata alika

Istri kakek Rizwan menatap kea rah alika yang tiba tiba nyambar

“kenapa mak, benarkan apa yang alika bilang. Tak payah dia untuk menghamilkan anak orang jika dia memang mau anak laki laki cari aja Wanita yang bisa melahirkan anak laki laki. Umi dian dimana laki laki itu sekarang?” kata alika

Laki laki itu adalah buya bukhori

“dia sudah Bersama istri kedua nya dan keluarga besar nya” kata anggi

Kembali syok semuanya

“maksudnya om apa ya, dia memiliki istri lain selain umi” kata rania

“benar rania, dia sudah menikah lagi tanpa persetujuan mbak dian. Ya bisa di bilang selingkuh lah” kata anggi

“brengs**, laki laki biada*” kata semua anak anak nya kakek Rizwan

ASTAGFIRULLAH

“kalian kenapa berkata kasar, bapak dan mamak tidak pernah mengajarkan kalian berbicara seperti itu” kata Rizwan

“maaf pak, laki laki itu tak pantas di sebut seorang ayah pak.” Kata nisa

“tak seharusnya kalian berucap seperti itu” kata Rizwan

“maaf pak” kata anak anak nya serempak menjawab

Rania melihat ke arah umi dian dengan pandangan yang masih bingung

“u-umi apa rania boleh peluk umi lagi” kata rania dengan terbata bata sambil menunduk

Umi dian yang di tanyakan senyum merekah di bibir nya saat anak nya malah ingin di peluk Kembali

“sini sayang. Umi senang kalau kamu mau memeluk umi lagi” kata umi dian langsung merentang kan tangan nya terbuka Kembali.

Setelah selesai berpelukan..

“jadi rania apakah kamu mau tinggal Bersama keluarga kandung mu mulai dari hari ini.. bukan maksud bapak mengusir mu, sudah saat nya kamu Kembali dan berkumpul dengan keluarga kandung mu. Kamu boleh kok untuk datang dan menginap lagi di rumah ini, pintu ini terbuka lebar untukmu dan keluarga mu” kata kakek Rizwan

Rania terdiam sambil melihat ke seluruh orang orang yang ada di rumah tersebut.

Huuuhh ehhm

“mak pak, rania mau mengucapkan banyak banyak terima kasih sama kalian yang sudah mau ikhlas merawat rania dari bayi hingga sekarang. Rania juga mau berterima kasih buat seluruh kakak. Rania sayang dengan kalian. Jujur rania masih bingung dan syok dengan berita ini tapi satu sisi rania ingin lebih dekat dengan keluarga kandung rania. Izin kan rania untuk tinggal dengan mereka ya” kata rania sambil meneteskan air mata nya kemudian menunduk

Umi dian dan mamak nya yang berada dekat dengan rania langsung memeluk nya dengan tangisan. Begitupun dengan anak anak lain nya pun ikut berhamburan memeluk ke rania.

“ma-maaf kan rania mak kak” kata rania

“gapapa sayang, sudah waktu nya kamu kumpul dengan keluarga mu” kata mamak

“kak maaf kan rania” kata rania

“kamu tidak ada salah apapun rania, malah kamu jadi adik kecil kami yang paling baik santun sopan alim dan ramah banget” kata febi

“iya rania kamu adik bungsu kami” kata lia

“Kembali lah jika rindu. Kami akan Bahagia saat kamu datang Kembali” kata nisa

Pelukan tersebut pun lepas. Kini rania di bantu kelima kakak nya mengikuti ke kamar nya rania membantu rania membereskan baju baju nya.

Saat pika memasuki kamar nya rania dia memberikan sebuah kotak kecil yang isi nya adalah gelang yang sangat cantik

“apa ini kak” kata rania

“buka nya nanti setelah di jalan saja ya” kata pika

“kak kami gak dapat” kata febi dan nisa

“kita berlima sudah kakak simpan di kamar. Nanti aja kakak bagi kan” kata pika

“makasih kak. Insyallah kalau rania sudah sukses rania akan kesini dan mengajak kakak semua untuk liburan. Kita akan pergi ke tempat yang belum pernah kita capai sama sama” kata rania

Kembali lagi mereka berpelukan hingga mamak tri mengetuk pintu kamar

Tokk tokk.

“boleh mak masuk” kata mamak tri

“boleh mak, sini masuk” kata nisa

Mak tri pun melihat seluruh anak anak yang menghapuskan air mata nya saat dirinya masuk ke dalam kamar.

“rania pesan mamak, jangan salah kan umi mu ya nak, dia tak tau cerita yang sebenar nya. Mak piker waktu ayah mu mengantar kan mu kepada mak dan bapak yang Bersama ayah mu kami kira ibu kandung mu tapi ternyata itu adalah istri kedua dari ayah mu. Umi mu itu guru agama, mak lihat shalat mu sudah mulai full, pertahan kan ya nak. Tetap berbuat kebaikan ya nak. Mak selalu sayang rania seperti kakak kakak mu juga. Mak sayang dengan kalian semua” kata mak tri yang langsung memeluk rania sambil mengeluarkan air mata nya

Setelah nya ..

“mak ini sudah waktu nya rania Kembali, gak enak kalau kita terlalu berlama lama di dalam. Kasihan keluarga nya yang sudah menunggu” kata pika

“hah i-iya ya yaudah ayuk kita keluar” kata mak tri yang berbarengan dengan anak anak nya yang lain

Mereka pun Kembali ke ruang tamu dan duduk Kembali dengan yang lain.

“udah selesai” kata pak Rizwan

“sudah pak. Pak sekali lagi makasih ya. Aku akan datang setiap weekend ke sini untuk berkunjung atau pun mengajak kakak untuk jalan jalan” kata rania

“iya sayang iya. Dah Kembali lah keburu malam” kata pak Rizwan

Akhirnya mereka berempat berpamitan ke keluarga pak Rizwan dengan keadaan mak tri dan kelima anak anak nya menangis di depan pintu rumah.

Anggi terlambat masuk mobil karena ia sudah berjanji dan akan menyampaikan Amanah dari papa wito untuk memberikan uang serta kunci rumah untuk keluarga pak Rizwan.

Walaupun sempat di tolak tapi anggi memaksa tanda ucapan terimakasih karena rania. Lalu mereka pun pulang ke rumah keluarga papa wito.


Read More

Monday, March 30, 2026

BAB 6 - PENCARIAN KEDUA (ketemu)

March 30, 2026 0

 


Hari besok pun tiba.

Pukul 08.00

Semuanya sudah berkumpul di ruang tamu dan bersiap siap dengan tujuan nya hari ini.

Husna tiba tiba datang dan mendekat ke arah umi dian.

“umi mau ke mana?” kata husna sambil memegang ujung baju nya

“umi mau mencari kakak mu dulu ya dengan om om mu. Husna jagain adik adik ya bantui bude nurul dan bu suci” kata umi dian sambil mencium puncak kepala nya

“iya umi, jangan lupa makan dan istirahat ya umi dan om” kata husna

“iya husna” kata mereka bertiga sambil mengangguk

“suci mbak aku titip anak anak ya. Doakan semoga kami segera membawa nya Kembali” kata umi dian sekalian pamit

“iya mbak” kata suci sambil berpelukan

Akhirnya pun mereka bertiga pergi dengan perasaan yang bingung sedih atau Bahagia.

Di perjalanan .

Di mobil. Tak ada yang mengeluarkan suara apa pun di mobil.

Anggi membantu lutfi untuk mencari gang yang dimana alamat tersebut.

1 jam kemudian..

Setelah drama mencari gang gang yang tak kunjung ketemu akhirnya ada seorang kakek kakek yang sudah termasuk tua tapi jalan nya yang sudah bungkuk.

Mereka berhenti sedikit ke pinggir jalan dan mas anggi mendekati kakek tersebut.

“permisi kek, saya mau tanya alamat. Apakah kakek tau alamat ini dimana” kata anggi

Kakek itu pun membaca dengan kacamata nya sambil kelihatan kaget saat melihat Kembali ke arah anggi.

Anggi yang di perhatikan kakek tersebut bingung dan

“kalian siapa. Kenapa mencari alamat ini” kata kakek tersebut

“apa kakek tau alamat ini” kata anggi

“saya tau. Tapi saya harus tau dahulu kalian siapa. Dan siapa yang kalian cari?” uajar kakek itu

“oh ya sebelumnya saya ingn bercerita dahulu. Saya baru mengetahui sebuah rahasia kakak kandung saya yang ternyata mereka memiliki seorang anak perempuan tapi anak tersebut malah di kasih ke seorang kakek yang bernama Rizwan” kata anggi

Kakek tersebut semakin syok dan menetes kan air mata nya. Anggi yang melihat kakek tersebut tiba tiba menangis tampak bingung.

“kakek maaf kenapa kakek menangis” kata anggi

“kalian sudah menemukan nya. Sa – saya lah kakek Rizwan yang sedang kalian cari itu” kata kakek Rizwan

Ya anggi langsung syok. Dan menjatuh kan sebuah foto anak kecil yang tadi sempat di pegang nya.

Di mobil umi dian yang melihat lembaran foto tersebut jatuh merasa bingung dengan yang dia lihat

“kenapa” batin nya umi dian

Umi dian turun dan diikuti lutfi, kemudian mendekat ke anggi

“anggi, sudah ketemu belum kenapa malah duduk di sini” kata umi dian

Kakek Rizwan dan anggi yang melihat ke arah umi dian dan lutfi dengan perasaan yang gak bisa di bilang

“mb-mbaak kita sudah ketemu dengan kakek riwan” kata anggi sambil meneteskan air matanya

Mata umi dian membulat dan ikut menetes kan air mata nya

“dimana anggi. Ayok kita ke sana” kata umi dian

“dimana mas” kata lutfi

“di depan kalian ini adalah kakek Rizwan yang kita cari” kata anggi

Mereka berdua Kembali syok dengan kabar tersebut.

Kakek Rizwan melihat ke arah ketiga orang yang baru saja ia jumpai.

“kamu dian” kata kakek Rizwan

“i-iya saya kek” kata umi dian

“masyaallah akhirnya ya allah aku bertemu dengan orangtua nya langsung” kata Rizwan

Kakek Rizwan yang tadi nya sedang duduk kini bangkit dan berjalan ke umi dian

“ayok ikut kakek, anak mu sangat cantik tumbuh dewasa” kata kakek Rizwan

Umi dian langsung mengangguk dan membantu kakek Rizwan menuju ke mobil. Lalu kakek Rizwan juga membantu lutfi untuk mengarahkan ke rumah nya tersebut.

15 menit kemudian ..

Tiba di rumah yang di tuju dan di cari.

Sekitaran rumah melihat ke arah mobil yang baru saja datang dan berhenti tepat di lapangan rumah kakek tersebut.

Kakek Rizwan turun dan juga 3 orang lain nya. Kakek tersebut mengajak umi dian untuk ikut masuk ke dalam rumah nya.

“nisa, tolong panggil kan rania” kata kakek Rizwan yang sedang memanggil anak nya

“iya pak, sebentar” kata nisa

“kalian duduk lah dulu sebentar. Rania sering keluar bermain dengan teman teman nya. Kini usia nya akan memasuki umur 10 tahun. Bicaralah dengan jujur dengan nya dian. Bapak yakin dia sudah mulai mengerti” kata kakek Rizwan

Tidak berapa lama rania dan kedua anak dari kakek Rizwan pun datang bersamaan dan memasuki rumah tersebut. Nisa yang sudah mengetahui ada nya tamu dia tak kaget lagi. Tapi beeda dengan rania dan alika mereka berdua mematung melihat ke arah 3 orang asing yang ada di dalam rumah nya.

“assalamualaikum” kata mereka bertiga sambil masuk ke dalam rumah

“waalaikumsalam” kata kakek Rizwan lutfi dan mas anggi

“waalaikumsalam masyallah cantik nya” kata umi dian yang langsung tertuju ke seorang anak kecil dengan pakaian setelan dan juga rambut yang tergurai Panjang.

Umi dian bangkit langsung pelan pelan berjalan menuju ke rania.

“alhamdulillah ya allah, apa benar kamu rania sayang” kata umi dian sambil dengan isakan tangis haru nya

“i-iya bu, sa-saya rania. Maaf ibu siapa ya” kata rania dengan ragu nya

Umi dian yang di tanya dengan rania langsung terdiam dan makin menangis saat rania ternyata tidak mengenal ibu kandung nya.

“ibu kenapa menangis, apa rania salah ya” kata rania yang bingung

Umi dian hanya menggelengkan saja kepala nya

“boleh saya memeluk mu” kata umi dian

Rania melihat ke arah 2 kakak nya, nisa dan alika mengangguk kan kepala nya mereka menandakan setuju.

Kemudian rania pun ikut memeluk ke umi dian

Tiba tiba rania merasakan jantung nya berdegup kencang, ia pun Kembali mengeratkan pelukan yang sangat nyaman itu.

“kenapa ini sangat nyaman, beda dengan pelukan mamak” batin rania

Pelukan pun terus berlanjut. Hingga akhir nya rania pelan pelan melepaskan pelukan tersebut.

“rania sini duduk sebelah bapak. Dan nisa tolong panggil kan mamak dan kakak serta yang lain nya. Ada yang mau bapak sampai kan” kata kakek Rizwan

Rania dan alika pun berjalan ke kakek Rizwan. Umi dian Kembali ke posisi duduk nya semula sambil menghapus kan air mata yang tersisa.

Waktu kumpul tiba..

Kakek Rizwan melihat ke arah keluarga nya apalah sudah lengkap semua atau belum.

“dengarin bapak, bapak akan menjelaskan ke kalian semua termasuk kamu rania, bapak harap tidak ada yang memotong pembicaraan bapak sampai selesai. Paham semuanya” kata kakek Rizwan

Sebelum lanjut, mimin mau jelasin dulu tentang kakek Rizwan.

Kakek Rizwan memiliki 5 orang anak yang dimana semua anak nya adalah perempuan. Anak nya yang paling besar sudah berumur 20 tahun yang bernama alika putri di panggil alika.

Anak kedua yang sudah berumur 18 tahun yang bernama dwi raspika di panggil pika. Anak ketiga sudah berumur 15 tahun yang bernama khairulina Aprilia di panggil dengan lia.

Anak keempat berumur 14 tahun yang bernama febi rasmawati yang di panggil febi dan yang terakhir annisa dwi mandala di panggil nisa yang saat ini berumur 12 tahun.

Istri kakek Rizwan bernama tri aprika di panggil mamak tri.

Kisah tentang rania hanya di ketahui oleh istri nya anak pertama dan anak kedua dari mereka saja. Anak ketiga keempat dan kelima tidak ada yang mengetahui fakta sebenarnya.

Mereka sengaja menutup rahasia tersebut agar tidak menyakiti hati rania. Selama ini rania tidak melakukan kesalahan apa pun. Bahkan dia anak yang sangat baik dan juga penurut.

Anak ketiga keempat dan kelima tersebut mengetahui kalau rania adalah anak dari orangtua nya mereka saat rania sudah berumur 3 tahun.

Mereka pun berfikir kalau rania ini adalah adik bungsu nya mereka padahal kenyataan yang sebenar nya adalah kalau rani aini bukan lah anak kandung dari orangtua mereka.

 


Read More

Sunday, March 29, 2026

BAB 5 - KEPUTUSAN AKHIR

March 29, 2026 0

 


“dimana anak yang kalian sembunyikan” kata papa wito

Kedua orangtua bukhori serta bukhori juga syok dan menatap ke arah papa wito

“da.. dari mana kamu tau soal anak itu?” kata opung prima

Haha (suara tawa pelan dari papa wito)

“tak payah lah kalian berpura pura lagi soal anak kecil tanpa dosa itu kalian sembunyikan dari kami. Semuanya kami sudah mengetahui hal seperti itu.  Sekarang aku tanya DIMANA ANAK TIDAK BERSALAH ITU” kata papa wito yang akhir nya di tekan kan omogan nya dan menatap tajam ke arah keluarga besar bukhori

Akhir nya pun di jawab dari keluarga nya bukhori juga tapi bukan keluarga yang bersangkutan melainkan Wanita tersebut

“anak yang kalian maksud anak yang sudah di buang oleh bang bukhori ya. Hmm anak itu kemaren aku lihat dia sedang ngemis ngemis di pajak. Upss ketahuan deh” kata Wanita tersebut

“BAJINGAN KAU” kata umi dian

“wow dian ternyata kamu bisa berkata kotor ya, tak cocok saat kamu menggunakan hijab dan baju kurung seperti itu. Haha” kata Wanita tersebut

Plaakkk (suara tamparan)

Tamparan tersebut di berikan ke Wanita tersebut dari tangan nya langsung umi dian. Merah pipi dan bekas tangan umi dian juga tercetak di pipi Wanita tersebut.

Awwhh (suara rintihan sakit dari Wanita tersebut)

“KURANG AJAR KAU DIAN, INI KAU RASAKAN ..” kata Wanita tersebut

Dia bangkit sambil tangannya mulai melayang di udara ingin menampar umi dian tapi sayang nya tamparan tersebut malah salah sasaran

Tamparan tersebut malah mengenai bukhori

PLAAAkkk

Wanita tersebut nama nya putri arini biasa di panggil arini.

Dia kaget dan bergetar karena salah menampar orang, yang seharus nya umi dian yang dapat tamparan tersebut malah bukhori lah yang mendapat kan nya.

Bukhori melirik ke arah arini dengan mata besar dan memerah nya

“KENAPA” Kata bukhori menatap tajam ke arah nya

“maaf bang. Ma.. maaf tadi aku mau menampar Wanita gila itu” kata arini

“Wanita gila yang kau sebut itu dia masih istri sah ku arini” kata bukhori

“aku juga Wanita sah mu walaupun tanpa restu dari istri pertama mu” kata arini

“tapi tak seharus nya kau membuat nya marah arini. Ini urusan keluarga ku bukan urusan mu. Dan kamu juga sudah berjanji sebelum kita pergi ke sini kamu tak akan membuat kegaduhan apa pun” kata bukhori

“aku di cap Wanita murahan bang, kenapa dari tadi kau hanya diam saja . saat aku yang menghina dia (sambil menunjuk ke arah umi dian) kau malah membela nya. Jujur sama ku, kau akan menceraikan dia atau tidak” kata arini sudah mulai geram dengan semuanya

“DIAM LAH ARINI” kata opung prima

“AYAH AKU TAK TERIMA KALAU DIAN TERUS MENGANGGAP AKU INI WANITA MURAHAN” kata arini dengan ngegas nya

“SUDAH BELUM DENGAN DRAMA YANG KALIAN CIPTAKAN. NGANTUK DAHAN SEMUA YANG ADA DI SINI” kata umi dian di akhiri dengan menguap

Bukhori melihat adik dan juga kakak nya pada menguap semua , benar apa yang di bilang oleh dian. Kemudian dia menatap dian

“anak itu ada di jl x dengan kakek Rizwan. Dia di rawat sangat baik oleh keluarga itu bahkan sudah menganggap anak nya sendiri bukan anak angkat. Maaf dian dan seluruh keluarga besar dian saya bukhori tidak bisa menganggap dia menjadi anak saya walaupun dia anak kandung saya sendiri” kata bukhori dengan suara bergetar dan langsung menunduk. Padahal dia sudah menetes kan air mata nya

Arini mendekat dan menenangkan bukhori serta opung prima tersenyum karena arini masih sedang mengandung cucu laki laki yang dia ingin kan untuk penerus marga nya.

ASTAGFIRULLAH

Semua keluarga dian dan beberapa keluarga bukhori mengucapkan hal yang sama sambil menggeleng geleng kan kepala dengan tidak kepercayannya mereka dengar ucapan tersebut dari bukhori langsung.

1 jam setelah keterdiaman antara 2 keluarga besar tersebut pun akhirnya keputusan nya adalah dian dan bukhori bercerai yang akan bertemu Kembali di pengadilan 2 hari setelah pertemuan mereka ini.

Tapi bukhori dia  di tahan di dalam sel selama beberapa hari hingga jadwal persidangan tiba.

Malam hari tiba..

Keluarga dian masih berkumpul di rumah besar. Tak ada pembahasan tentang hal hal yang bikin mereka semuanya kaget.

Dian masih dengan keterdiamannya, memikirkan bagaimana cara menemukan anak itu, gimana anak itu sekarang apa dia mau nerima aku sebagai ibu kandung nya. Segala overthingking di pikirkan dian.

Suci menghampiri dian yang berada di taman belakang rumah.

“mbak” kata suci

Dian yang di panggil masih terdiam belum sadar akan kehadiran adik bungsu nya. Akhirnya suci pun memegang Pundak nya pelan agar menyadarkan kelamunan mbak nya.

Ya dian syok saat ada orang yang menyentuh nya tapi saat melihat itu suci ia hanya beristighfar saja.

Astagfirullah . sambil menghela nafas nya.

“kenapa suci” kata mbak dian

“mbak kenapa sendiri saja di halaman. Kenapa tidak bergabung dengan keluarga lain” kata suci

“mbak gapapa, mbak hanya ingin sendiri saja” kata dian

“mbak jangan memikirkan hal lain dulu. Soal anak itu kita akan cari cara untuk menemukan nya. Percayalah allah gak tidur mbak pasti allah akan bantu kita juga nanti nya asalkan kita nya usaha dan bersabar” kata suci

Dian pun mengangguk dan paham

“masuk yuk mbak bergabung dengan yang lain dulu. Besok kita bahas lagi masalah ini” kata suci sambil mengajak dian untuk masuk ke dalam rumah

Semua melihat kea rah pintu belakang yang dimana suci dan dian baru saja masuk ke dalam rumah.

Papa wito melihat kea rah cucu nya yang sudah mulai mengantuk dan menyuruh anak anak nya untuk menidurkan semua anak anaknya.

“kalian ajak dulu cucu papa ni mereka sudah pada mengantuk. Lepas itu kalian kumpul lagi di ruang tamu. Papa mau bahas masalah kita tadi” kata papa wito

Mereka pun bangkit dan mengajak anak anak nya untuk tidur karena waktu juga sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam.

1 jam kemudian seluruh cucu cucu papa wito dan ibu yati semuanya sudah pada tidur. Para orangtua ataua anak dan menantu sedang berkumpul di ruang tamu.

Ehkmm.

Papa wito berdehem karena semua nya tiba tiba diam tanpa bertanya

“dengarkan papa. Ini memang masalah keluarga nya dian tapi kita sebagai saudara terdekat nya saudara kandung nya harus dan wajib ikut andil dalam setiap masalah. Bukan hanya dian saja jika kalian juga ada masalah yang berat kita akan selesaikan secara Bersama sama. Paham” kata papa wito

“iyaa pa” kata mereka semua secara bersamaan

“anggi lutfi dan dian besok pergilah mencari anak itu, ajak dia dan berusahalah agar anak itu ikut Bersama kalian, papa harap besok anak itu sudah ada di dalam rumah ini”

“nurul dan suci kalian jagalah dan saling membantu untuk anak anak nya dian. Tapi papa rasa husna sudah mulai bisa membantu menjaga adik adik nya”

Kata papa wito membagikan tugas agar saling membantu.

“bu ayuk istirahat. Kita juga butuh tenaga untuk 2 hari kedepan. Dan kalian juga jangan lupa untuk istirahat ya. Jangan pikirkan hal lain terutama kamu dian. Jangan terus menerus menangis. Bawa ke shalat bagi cerita dan masalah nya dengan allah. Nanti allah akan bantu segala nya tentang masalah mu asalkan usaha dan bersabar” kata papa wito yang sambil mengajak ibu yati untuk masuk ke kamar agar istirahat

Dian dan yang lain mengangguk dengar perintah dari papa wito. Semuanya pun bangkit satu persatu dan menuju kamar nya masing. Tak lupa mbak nurul beserta adik adik nya yang lain untuk tetap menyemangati dian agar tidak berlarut larut dalam kesedihan nya.

Mereka pun istirahat …


Read More

iklan

Post Top Ad


free vectors | free css3 templates | agence web chartres