BAB 14 - SUASANA DI ISTANA - AFANDI PRO

Tips & Tutorial Computer

KONTAK SAYA

| Whatsapp : 0895 6132 03001 | Facebook : Afandi Husin | Instagram : @Afandi_Husin | YouTube Afandi Pro |

Post Top Ad

Tuesday, April 28, 2026

BAB 14 - SUASANA DI ISTANA

 

Saat mereka hendak masuk mereka terheran heran dengan tingkah kedua kali nya dari cicit akung wito.

Tiba tiba mereka melihat ke seisi rumah hingga melongok

“kalian kenapa belum masuk kamar juga” kata akung tito

Semua cucu cucu nya akung wito Kembali lihat sama sama ke arah sumber suara yaitu poisi nya di belakang mereka.

Mereka Kembali senyum senyum karena ketahuan masih bengong melihat rumah yang mereka datangi.

Gimana gak bengok mulu rumah yang mereka datangi lebih dari istana tambah pavilion nya saja makanya besar sekali.

Kini para cucu nya akung wito sudah berada di dalam kamar yang di lantai tengah yang sudah di pilih atas kesepakatan Bersama.

Waktu malam hari tiba.

Para maid dari siang hingga sore mereka sudah pada sibuk di dapur di karenakan harus memaksa besar dengan porsi banyak. Karena isi di dalam rumah juga banyak orang nya.

“makan makan” kata uti fanny

Semua yang ada di dalam ruangan serta di luar ruangan kini berada di dalam ruang makan. Semua nya beratur untuk mengambil makanan.

Hanya ada obrolan kecil kecil saja tanpa berisik. Karena di atuan keluarga mereka tidak boleh terlalu lama untuk makan agar tidak di makan oleh setan. (begitulah).

Kini pukul 08.00

Semua para cucu yang masih muda mereka berkumpul di halaman samping yang dimana terdapat kolam ikan serta gazebo dan ada beberappa taman bunga nya juga.

Mbak pita dan mbak resti datang Bersama beberapa maid membawa cemilan cemilan di halaman samping

“letak di sini aja bi, makasih ya. Maaf merepotkan” kata mbak resti

“sama sama non, tdidak merepotkan ini memang sudah tugas nya kita. Kalau ada perlu lagi tekan tombol ya non. Permisi” kata bi muna

Bi muna adalah kepala bibi nya, dia yang mengatur para bibi lain nya. Kalau sudah seperti ini dia akan ikut serta juga membantu.

Kita lanjut di halaman samping

“pada di makanin semua nya” kata mbak resti

“iya makanin ni jangan malu malu ya” kata mbak pita

Cucu dari akung wito mereka saling tengok tengokan.

Jujur saja mereka canggung malu campur aduk karena mereka baru pertama kali ke jogja apalagi rania yang dari awal belum pernah kenal dengan keluarga besar.

Mbak pita mendekat ke rania

“de rania, kamu mau gak tinggal di jogja” kata mbak pita sambil tersenyum

“hah, a-aku gak tau m-mbak, aku ngikut apa kata umi saja” kata rania terbata bata

“kamu kenapa gugup gugup?” kata mbak pita

“takut salah ngomong mbak, maaf” kata rania sambil menundukkan kepala nya

“semua yang ada di sini itu keluarga kamu, inilah keluarga besar Zawawi. Kalau kamu tinggal di jogja kamu akan sering bertemu dengan keluarga Zawawi yang lain.” Kata mbak pita

“benar rania, kami semua adalah keluarga mu, sepupu sepupumu bukan hanya dari keluarga nya akung wito saja, dari kekeluarga Zawawi yang lain juga itulah keluarga besar nya” kata mbak resti

“rania, aku yakin kamu akan betah kalau tinggal di jogja kita akan sekolah bareng” kata yanti

“kita bukan nya sekolah di tempat uti fanny” kata rani

“la hiya benar lagi” kata yanti

Keluarga cucu akung wito mereka saling diam masih kurang paham dengan pembahasan mereka. Mereka hanya dengar “sekolah nya di tempat uti fanny”

Tapi di dalam keterdiaman mereka, mereka saling kode lewat mata tapi hati terus berkata

“maksudnya sekolah uti fanny?” kata hati husna

“jangan jangan uti fanny orang yang lebih kaya dari adik adik nya atau abang nya?” kata hati Fathia

“gila sih ini, memang benar benar keluarga sultan” kata alya

“seperti nya iya beneran pemilik sekolah nya adalah uti fanny” kata hati raina

Oke balik ke para sepupu lain nya

“udah udah jangan cerita hal lain dulu. Mbak tadi dengar di dalam kalau umi dian dan anak anak nya akan pindah di jogja” kata mbak pita

“seriusan mbak?” kata Fathia

“iya Fathia, loh kamu dan yang lain apa belum tau?” kata mbak pita

Fathia dan keluarga cucu akung wito saling menggelng dan menatap ke ketiga anak anak nya umi dian

“dan juga tadi akung wito bilang kalau keluarga nya bu suci dan om anggi akan pindah ke bandung dalam tahun ini” kata mbak resti

Kembali membola mata Fathia dan keluarga akung wito

“kami gak tau apa apa mbak, justru kami tau nya dari mbak berdua” kata nisa

Di posisi husna, sofi, raina dan Fathia mereka menunduk dengan perasaan sedih dengar berita berita yang baru saja mereka dengar.

Kini malam semakin malam,

Semua nya Kembali ke kamar masing masing.

Disaat semua orang sudah memilih masuk ke alam mimpi beda dengan anak anak dari keluarga akung wito mereka masih terbangun kecuali adik adik yang masih kecil mereka di harus kan tidur.

Kini tinggal husna, nisa, Fathia, raina, alya, Danish, dan aji. Mereka membentuk lingkaran, masih diam diaman.

“ini hal yang sangat sangat mengejutkan bagi kita semua, mungkin nisa belum terlalu kaget karena dia tidak tinggal dekat kalian. Mbak juga termasuk yang sangat sangat sedih kalau harus berpisah jarak jarak nya dengan keluarga yang lain, apalagi kita baru saja bertemu” kata mbak raina

“kita masih bisa bertemu saat liburan, kita masih bisa liburan” kata husna sambil tersenyum melihat ke arah sepupu sepupu lain nya yang sudah tampak sedih.

“iya kita memang berpisah tapi kita masih tinggal di satu negara hanya pulang dan beberapa kota yang membuat kita berjarak. Berjanjilah dari sekarang kalau kita akan selalu bertemu dan berlibur bareng saat libur sekolah tiba. Kita akan keliling dunia” kata Fathia di akhiri senyum manis nya

“iya kita harus terus bertemu” kata aji

Yang lain ikut mengangguk dan tersenyum ke yang lain nya juga. Dan berakhir lah berpelukan

“ya allah, ternyata begini rasanya keluarga kandung yang sesungguh nya, aku pikir keluarga ku hanya lah bapak Rizwan ternyata ini jauh dan makasih ya allah telah pertemukan aku dengan yang sangat sangat baik ini” kata hati rania sambil memeluk sepupu sepupu lain nya.

Akhirnya pun mereka semua tertidur di tempat tidur masing masing.

Sebenarnya di kamar tersebut ada tempat tidur satu gitu yang bisa muat hingga 4 orang anak anak. Tapi mereka meminta ke para bibi untuk pakai bed yang di bawah aja di susun memanjang biar tidur berdempet dempetan.

Mereka tak menyadari, saat mereka sudah terlelap, akung wito yang tadi nya ingin mengecek para cucu hingga gak jadi di karena kan mendengar pembicaraan mereka.

Bukan hanya akung wito tapi uti fanny juga ikut mendengar, mereka menunggu hingga para cucu sudah terlelap.

Saat itulah akung wito dan uti fanny masuk, uti fanny sengaja membawa camera pocket untuk mengabadi kan setiap momen yang ntah bisa atau tidak terulang Kembali.

Uti fanny tersenyum melihat kekompakan keluarga wito.

 


No comments:

Post a Comment

iklan

Post Top Ad


free vectors | free css3 templates | agence web chartres